Harga Minyak Mencekik? Dampak ke Dompet Warga + APBN 2026

Haifest.id – Jakarta digemparkan dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus 115 dolar AS per barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam terhadap risiko fiskal Indonesia di tahun 2026. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan bahwa minyak ini bisa memicu efek domino yang merugikan.

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah, melibatkan Iran, AS, dan Israel, serta ancaman penutupan Selat Bab al-Mandab oleh kelompok Houthi, menjadi pemicu utama meroketnya harga komoditas minyak mentah. Selain itu, kondisi ini berpotensi menggerus daya beli masyarakat dan memicu krisis nilai tukar rupiah jika tidak sigap mengantisipasi.

APBN 2026 Terancam Jebol Akibat Harga Minyak Tinggi

Harga minyak mentah dunia yang melambung jauh di atas asumsi APBN 2026, yaitu 70 dolar AS per barel, akan memukul telak anggaran negara. Konsekuensinya, beban dan kompensasi energi akan membengkak secara signifikan. Alhasil, defisit APBN berpotensi melebar, mengancam stabilitas fiskal Indonesia.

Wijayanto Samirin menegaskan, dampak kenaikan harga minyak tidak hanya berhenti pada APBN. “Defisit APBN akan melejit, inflasi akan meningkat, daya beli masyarakat akan melemah,” ujarnya saat dihubungi Republika pada Senin (30/3/2026).

Rupiah Berpotensi Terkapar Lebih Dalam

Selain ancaman defisit APBN, terhadap dolar AS juga berada di bawah tekanan hebat. Pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), rupiah sudah menembus level Rp 17.002 per dolar AS. Bahkan, mata uang Garuda ini diprediksi akan terus mengalami koreksi jika situasi tidak terkendali.

Baca Juga :  Usut Tuntas! YLBHI Desak Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Wijayanto mewanti-wanti, “Rupiah berpotensi semakin tertekan. Jika tidak hati-hati, Indonesia bisa mengalami krisis fiskal yang dapat berujung pada krisis nilai tukar rupiah.”

Tekanan terhadap rupiah, menurut Wijayanto, sebenarnya sudah ada sebelum Iran vs AS-Israel memanas. Kondisi fiskal yang kurang solid menjadi penyebab utama. Namun, peperangan yang terus berlanjut di Timur Tengah semakin memperburuk keadaan.

Strategi Jitu Selamatkan Ekonomi Indonesia 2026

Lantas, bagaimana cara Indonesia menghadapi gempuran harga minyak dunia yang tak terkendali? Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengamankan APBN dan menjaga daya beli masyarakat. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Optimalisasi Penerimaan Negara: Pemerintah perlu menggenjot penerimaan dari sektor pajak dan non-pajak.
  • Anggaran: Pengeluaran yang kurang prioritas harus dipangkas demi menjaga disiplin fiskal.
  • Diversifikasi Energi: Mengurangi ketergantungan pada fosil dengan mengembangkan energi baru dan terbarukan.
  • Pengendalian Inflasi: (BI) perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter yang tepat.

Dampak Kenaikan Harga Minyak ke Sektor Lain

Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada APBN dan nilai tukar rupiah. Sektor-sektor lain dalam perekonomian juga akan merasakan dampaknya. , misalnya, akan mengalami kenaikan tarif yang signifikan. Industri manufaktur juga akan terbebani oleh biaya produksi yang lebih tinggi.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak bisa menjadi berkah tersembunyi bagi sektor . Investasi di bidang energi surya, angin, dan биомасса berpotensi meningkat pesat seiring dengan meningkatnya daya saing energi terbarukan.

Ancaman Krisis Ekonomi 2026, Mungkinkah Terjadi?

Dengan kondisi global yang semakin tidak pasti, ancaman krisis ekonomi 2026 semakin nyata. Perang, inflasi tinggi, dan resesi global menjadi momok yang menakutkan. Indonesia perlu bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus bergandengan tangan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak krisis.

Baca Juga :  KPK Segera Tahan Satori dan Heri Gunawan Tersangka Korupsi CSR

Jika pemerintah gagal mengendalikan situasi, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami krisis fiskal dan krisis nilai tukar rupiah seperti yang dikhawatirkan oleh Wijayanto Samirin. Dampaknya akan sangat luas dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak dunia menjadi alarm bagi Indonesia. Risiko fiskal membayangi APBN 2026 dan nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu bertindak cepat dan tepat untuk mengamankan ekonomi nasional dan melindungi kesejahteraan masyarakat. Dengan strategi yang jitu kebijakan yang berani, Indonesia bisa melewati masa sulit ini dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.