Kemarau Sumsel 2026: Kapan Mulai dan Dampaknya? Info BMKG!

Haifest.idSumatera Selatan (Sumsel) bersiap menghadapi musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal di Sumsel pada Mei . Masyarakat perlu mewaspadai potensi dampak kemarau, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, dan keterbatasan air bersih.

Wandayantolis, Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel, menjelaskan bahwa beberapa wilayah berpotensi mengalami kemarau lebih awal dibanding daerah lainnya. daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi dampak musim kemarau 2026 ini.

Prediksi Awal dan Puncak Kemarau 2026 di Sumsel

Berdasarkan analisis iklim terbaru 2026, puncak musim kemarau di Sumsel diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus. Namun, terdapat variasi antar wilayah. Zona Musim (ZOM) 125 dan 135 diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal, sekitar satu lebih cepat dari wilayah lain.

ZOM 125 meliputi wilayah Palembang, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Ogan Ilir. Sementara itu, ZOM 135 mencakup Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

Sebanyak 12 ZOM lainnya di Sumsel diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Akan tetapi, ZOM 137, yang meliputi Pagar Alam, Lahat bagian selatan dan barat, sebagian kecil Musi Rawas bagian selatan, serta sebagian kecil Empat Lawang bagian timur, justru diprediksi mengalami puncak kemarau lebih lambat, sekitar satu bulan dari kondisi normal.

Durasi Musim Kemarau dan Wilayah Terdampak Terlama

BMKG memperkirakan durasi musim kemarau 2026 di Sumsel akan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian, atau sekitar tiga hingga lima bulan. Dasarian adalah periode 10 harian. Dengan demikian, durasi kemarau yang bervariasi ini memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak.

Baca Juga :  Cara Mengatasi E-KTP Fisik yang Rusak, Patah, Tulisan Pudar, atau Terkelupas

Wilayah Sumsel bagian tengah diperkirakan akan mengalami kemarau terlama, yakni sekitar 13 hingga 15 dasarian. Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah antisipasi khusus untuk wilayah-wilayah ini.

Imbauan dan Langkah Antisipasi dari BMKG

Mengingat potensi dampak negatif musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Tidak hanya itu, potensi kebakaran hutan dan lahan (), , dan keterbatasan air bersih menjadi perhatian utama.

Selain itu, pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk dalam pengendalian titik panas (hotspot) dan pengelolaan sumber daya air. Langkah-langkah ini akan meminimalkan dampak negatif selama periode musim kemarau 2026.

Persiapan Pemerintah Daerah Hadapi Kemarau 2026

Pemerintah Provinsi Sumsel telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi musim kemarau. Salah satunya adalah mendorong pengembangan komoditas pertanian yang lebih hemat air.

Selain itu, optimalisasi infrastruktur pengairan juga menjadi fokus utama. Dengan demikian, ketersediaan air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari tetap terjaga selama musim kemarau 2026.

Waspada Karhutla: Ancaman Utama Saat Kemarau

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius setiap musim kemarau di Sumsel. Oleh karena itu, pencegahan dan penanggulangan karhutla menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan cara pencegahannya terus digencarkan. Bahkan, patroli rutin di wilayah-wilayah rawan karhutla juga ditingkatkan untuk meminimalkan risiko kebakaran.

Kesimpulan

Musim kemarau 2026 di Sumsel diprediksi akan dimulai pada Mei, dengan puncak pada Juli-Agustus. Masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, kekeringan, dan keterbatasan air bersih. Kesiapsiagaan dan langkah antisipasi yang tepat akan meminimalkan dampak buruk musim kemarau 2026.