Hemat Minyak: Kendaraan Listrik Jadi Andalan di 2026
Haifest.id – Kendaraan listrik (EV) diprediksi akan mengurangi konsumsi minyak dunia hingga 2,3 juta barel per hari pada tahun 2026. BloombergNEF memperkirakan angka ini akan terus meningkat, bahkan lebih dari dua kali lipat, menjadi 5,25 juta barel per hari pada tahun 2030.
Peningkatan adopsi kendaraan listrik secara global menjadi faktor utama dalam penghematan ini. Selain itu, melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) akibat berbagai konflik geopolitik mendorong konsumen untuk beralih ke alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Lantas, bagaimana detail proyeksi penghematan minyak berkat kendaraan listrik per 2026?
Kendaraan Listrik: Hemat Minyak Hingga Jutaan Barel
Claudio Lubis, analis minyak dari BloombergNEF, menyampaikan bahwa transisi masyarakat ke kendaraan bertenaga baterai akan semakin masif hingga akhir dekade ini. Oleh karena itu, penghematan bahan bakar fosil juga diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan.
Saat ini, menurut perhitungan BloombergNEF, kendaraan roda dua dan roda tiga berkontribusi paling besar dalam penghematan bahan bakar fosil. Hal ini disebabkan oleh maraknya penggunaan sepeda motor listrik, terutama di negara-negara berkembang.
Rincian Penghematan Minyak di 2026: Motor Listrik Unggul
Angka penghematan minyak di 2026 didominasi oleh adopsi motor listrik. Kendaraan roda dua dan roda tiga diperkirakan menghemat sekitar 1,14 juta barel minyak per hari. Diikuti oleh kendaraan pribadi (roda empat) sebesar 926,8 ribu barel per hari, bus 229,8 ribu barel per hari, angkutan umum 217,9 ribu barel per hari, dan truk komersial 194,2 ribu barel per hari.
Namun, pada 2030, proyeksi menunjukkan pergeseran. Penghematan terbesar diperkirakan berasal dari kendaraan pribadi (roda empat) dengan estimasi mencapai 2,09 juta barel minyak per hari. Kemudian, diikuti oleh kendaraan roda dua dan roda tiga 1,35 juta barel per hari, angkutan umum 775,1 ribu barel per hari, truk komersial 721,7 ribu barel per hari, serta bus 315,7 ribu barel per hari.
Faktor Penghambat dan Pendorong Adopsi Kendaraan Listrik
Sejumlah kebijakan berpotensi memperlambat laju penjualan kendaraan listrik global. Salah satunya adalah penghapusan subsidi kendaraan listrik di Cina. Selain itu, perubahan atau pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035 di Eropa juga dapat berpengaruh.
Namun, harga bahan bakar yang terus melonjak akibat konflik di Timur Tengah memberikan dorongan bagi adopsi kendaraan listrik. Konsumen semakin mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat biaya.
Kendaraan Listrik Makin Kompetitif
Daan Walter, analis dari lembaga *think tank* energi EMBER, menyatakan bahwa kendaraan listrik semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. “Volatilitas harga minyak menjadikan kendaraan listrik sebagai pilihan yang masuk akal bagi negara yang ingin melindungi diri dari guncangan di masa depan,” ujar Walter, seperti dikutip dari Bloomberg.
Perbedaan Estimasi Penghematan Minyak
Perlu dicatat bahwa terdapat perbedaan estimasi antara BloombergNEF dan EMBER terkait penghematan minyak akibat adopsi kendaraan listrik. Berdasarkan perhitungan EMBER, penghematan minyak mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2026. Angka ini lebih rendah dari estimasi BloombergNEF.
Perbedaan ini disebabkan oleh metodologi perhitungan yang berbeda. EMBER juga memperhitungkan penggunaan BBM oleh mobil listrik jenis hibrida *plug-in*, sementara BloombergNEF fokus pada kendaraan listrik murni.
Dampak Ekonomi dari Adopsi Kendaraan Listrik
Dengan rata-rata harga minyak US$80 per barel, EMBER memperkirakan Cina dapat menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun berkat adopsi kendaraan listrik. Sementara itu, Eropa diperkirakan menghemat US$8 miliar per tahun dan India US$600 juta per tahun.
Kesimpulan
Adopsi kendaraan listrik terus menunjukkan tren positif dan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap penghematan konsumsi minyak global. Meski terdapat beberapa tantangan, dorongan dari kenaikan harga BBM dan peningkatan kesadaran lingkungan semakin mempercepat transisi ke era kendaraan listrik. Per 2026, kendaraan listrik bukan hanya pilihan ramah lingkungan, tetapi juga solusi ekonomis untuk masa depan.
